AdriBlog – Alexandra Elbakyan membangun arsip jurnal ilmiah terbesar di dunia dari kamarnya, hanya dalam tiga hari. Lima belas tahun kemudian, ia menanamkan “otak” buatan ke dalamnya — dan kembali membuat industri penerbitan jurnal gelisah.
Pernah mengalami momen ini? Kamu sedang mengerjakan tugas akhir, menemukan satu artikel jurnal yang persis kamu butuhkan, lalu mengklik tautannya dan yang muncul justru tombol bertuliskan “Buy PDF — $39.95”. Harga satu artikel bisa setara Rp500.000 hingga Rp900.000. Untuk satu file. Yang seringnya hanya kamu butuhkan satu bagian metodenya.
Lebih dari satu dekade lalu, seorang mahasiswi dari Kazakhstan mengalami persis frustrasi yang sama. Bedanya, ia kemudian menulis kode program untuk mengatasinya — dan tanpa sengaja menciptakan salah satu situs paling kontroversial dalam sejarah dunia ilmiah. Namanya Alexandra Elbakyan, pencipta Sci-Hub. Dan bulan April lalu, ia kembali ke sorotan dengan sesuatu yang baru: sebuah asisten riset berbasis kecerdasan buatan bernama Sci-Bot.
Berawal dari masalah yang dialami jutaan mahasiswa
Alexandra Elbakyan lahir di Almaty, Kazakhstan, pada 1988. Sejak usia muda ia belajar pemrograman secara otodidak. Saat kuliah, ia menekuni riset antarmuka otak–komputer (brain–computer interface) — bidang yang menuntutnya melahap jurnal ilmiah dalam jumlah besar.
Di situlah ia menabrak tembok yang akrab bagi banyak peneliti di negara berkembang: mayoritas jurnal terkunci di balik paywall, dengan harga yang mustahil ditanggung mahasiswa. Bagi Elbakyan, ini bukan sekadar masalah pribadi, melainkan ketidakadilan struktural. Pengetahuan ilmiah — yang sebagian besar dibiayai dana publik — seharusnya bisa diakses oleh siapa pun yang membutuhkannya.
Tiga hari yang mengubah penerbitan ilmiah
Pada September 2011, Elbakyan membangun Sci-Hub. Konon hanya butuh tiga hari. Cara kerjanya elegan dalam kesederhanaannya. Pengguna cukup memasukkan DOI (semacam “nomor identitas” sebuah artikel ilmiah). Sistem lalu mengambil artikel tersebut lewat akses institusional yang dibagikan kalangan akademisi, mengirimkannya gratis ke pengguna, sekaligus menyimpan salinannya. Artinya, setiap kali ada yang mencari artikel baru, koleksi Sci-Hub ikut bertambah. Arsipnya tumbuh seperti bola salju.
Dan tumbuh Dari sekitar 60 juta artikel pada 2016, arsip Sci-Hub kini dilaporkan menyentuh angka sekitar 88 juta artikel ilmiah. Sebuah studi yang banyak dirujuk diterbitkan di jurnal eLife pada 2018 bahwa Sci-Hub menyimpan sekitar 85 persen dari seluruh literatur berbayar, bahkan lebih dari 90 persen untuk bidang tertentu seperti kimia. Hingga hari ini, platform itu masih diakses ratusan ribu peneliti dari berbagai negara setiap harinya.
Digugat ratusan miliar, tetap berdiri
Tentu saja, langkah Elbakyan tidak dibiarkan begitu saja. Pada 2015, raksasa penerbit Elsevier menggugatnya. Dua tahun kemudian, pengadilan di New York memenangkan Elsevier dengan ganti rugi 15 juta dolar AS — setara ratusan miliar rupiah.
Tapi denda itu tak pernah dibayar. Elbakyan dengan terus terang menyatakan ia memang tidak punya uang sebanyak itu. Pengadilan di sejumlah negara juga memerintahkan pemblokiran domain Sci-Hub, namun situs tersebut selalu muncul kembali dengan alamat baru, bak permainan kucing-kucingan yang tak berkesudahan.
Di tengah pro dan kontra itu, pengakuan justru datang Pada 2016, jurnal bergengsi Nature memasukkan Elbakyan ke dalam daftar “Nature’s 10” — sepuluh tokoh paling berpengaruh di dunia sains tahun itu. Sebagian kalangan menjulukinya “Robin Hood sains”; sebagian lain menyebutnya “Ratu Bajak Laut Ilmu Pengetahuan”. Mana yang benar, tergantung dari sisi mana kamu memandangnya.
Babak baru: ketika perpustakaan bayangan belajar menjawab
Sebelum Sci-Bot, Elbakyan sempat meluncurkan Sci-Net pada 2025 — platform tempat peneliti bisa saling membantu meminta artikel yang belum tersedia di arsip. Namun lompatan terbesarnya datang pada April 2026, saat ia memperkenalkan Sci-Bot, asisten riset berbasis AI yang beroperasi di domain sci-bot.ru dan ditenagai langsung oleh arsip Sci-Hub.
Perbedaannya dengan Sci-Hub cukup mendasar. Jika dulu kamu harus tahu DOI artikel yang dicari, kini kamu cukup mengajukan pertanyaan dalam bahasa sehari-hari — dan Sci-Bot mendukung banyak bahasa. Sistem akan mencari jurnal yang relevan, merangkum temuan-temuan penting, menyusun jawaban lengkap beserta sitasi (dalam berbagai format seperti IEEE, APA, hingga MLA), lalu memberi tautan akses gratis ke jurnal yang menjadi sumbernya.
Karena bertumpu pada korpus yang nyata dan terbatas, Sci-Bot diklaim lebih kecil kemungkinannya “berhalusinasi” dibanding chatbot AI umum — sebab setiap jawaban tertaut ke artikel sungguhan. Meski begitu, versinya saat ini masih tahap awal (alpha): hanya bisa menjawab satu pertanyaan dalam satu waktu dan belum mendukung percakapan lanjutan.
Kata para penguji: hebat, tapi belum sempurna
Lalu, sebagus apa Sci-Bot sebenarnya? Majalah Chemical & Engineering News (C&EN), yang diterbitkan American Chemical Society, meminta tiga ilmuwan mengujinya. Salah satunya, Daniel Himmelstein yang menariknya adalah salah satu penulis studi cakupan Sci-Hub pada 2017 menilai Sci-Bot mampu menjawab pertanyaan radiologi yang ia ajukan dengan baik.
Namun ia mencatat satu kelemahan penting: Sci-Bot kekurangan riset yang terbit dalam beberapa tahun terakhir, kemungkinan karena penerbit kini memperketat sistem keamanan mereka. Kabar baiknya, menurut Himmelstein, banyak pertanyaan ilmiah sebenarnya tidak butuh riset paling baru — terutama yang membahas metode yang sudah mapan bertahun-tahun. Justru di situlah keunggulan Sci-Bot: karena tidak terikat batasan hak cipta, ia bisa menjangkau sumber literatur yang jauh lebih luas dibanding alat konvensional.
Solusi cerdas atau pembajakan gaya baru?
Di sinilah perdebatan lama kembali memanas, kali ini dengan baju baru bernama kecerdasan buatan.
Para pendukung berargumen sederhana: riset yang dibiayai uang publik tak pantas dikunci di balik paywall mahal. Mengubah arsip itu menjadi asisten AI, bagi mereka, justru mempercepat penemuan ilmiah dan meratakan kesempatan — terutama bagi mahasiswa dan peneliti di negara-negara berkembang yang selama ini tertinggal aksesnya.
Sebaliknya, para pengkritik menilai Sci-Bot pada dasarnya mengoperasionalkan koleksi yang diperoleh tanpa izin sebagai mesin layanan AI. Alih-alih menyelesaikan akar masalah, langkah ini dianggap justru memperluas praktik akses ilegal ke era yang lebih canggih.
Yang menarik, ada ironi besar di balik perdebatan ini. Sejumlah penerbit raksasa — termasuk Elsevier, Wiley, dan Springer Nature — justru ramai-ramai menandatangani kesepakatan komersial yang mengizinkan perusahaan AI melatih model mereka pada jurnal-jurnal berbayar. Dengan kata lain, persoalannya mungkin bukan lagi soal boleh atau tidaknya AI “membaca” jurnal, melainkan soal siapa yang berhak mengantongi keuntungannya — dan dengan syarat apa.
Yang patut direnungkan kampus kita
Bagi sivitas akademika, kisah Sci-Hub dan Sci-Bot bukan sekadar drama seru dari negeri jauh. Ia menyentuh persoalan yang sangat dekat: bagaimana mahasiswa dan dosen kita memperoleh akses pengetahuan secara layak, legal, dan terjangkau.
Sci-Bot tidak menyelesaikan perdebatan ini — ia hanya memindahkannya ke medan baru yang lebih rumit. Namun keberadaannya menjadi pengingat keras bahwa selama akses literatur ilmiah masih timpang, jalan-jalan alternatif yang secara hukum problematis akan selalu menemukan peminatnya. Pekerjaan rumah sesungguhnya tetap sama: mendorong model akses terbuka yang adil dan berkelanjutan, agar semangat seorang mahasiswi dari Kazakhstan dulu tak perlu lagi diwujudkan lewat jalan pintas.
Sumber: jurnal Nature (daftar “Nature’s 10”, 2016); studi Himmelstein dkk. di eLife (2018); laporan Chemical & Engineering News, TorrentFreak, dan Sify (2026); serta arsip pemberitaan terkait Sci-Hub dan Alexandra Elbakyan.
