Adriyan.web.id – Ini salah satu kelas paling terkenal di MIT, diajar oleh Patrick Winston. Beliau adalah profesor ilmu komputer dan pernah memimpin laboratorium AI di MIT selama puluhan tahun.

Menariknya, setiap bulan Januari beliau berhenti membahas AI dan mengajarkan satu hal yang menurutnya sangat penting untuk masa depan mahasiswa: “Cara berbicara agar orang mau mendengarkan”. Videonya di YouTube sudah ditonton puluhan juta kali.

Berikut versi yang lebih mudah dipahami: Patrick Winston membuka kelasnya dengan kalimat yang membuat semua orang langsung fokus: Di militer Amerika, seorang perwira tidak boleh mengirim tentara ke perang tanpa senjata. Hukumannya berat.

Menurut beliau, mahasiswa juga seharusnya “dibekali senjata” sebelum masuk dunia kerja. Karena kesuksesan seseorang banyak ditentukan oleh:

  1. Cara berbicara
  2. Cara menulis
  3. Kualitas ide

Walaupun ide kita bagus, kalau kita tidak bisa menjelaskannya dengan baik, orang lain mungkin tidak akan peduli.
Banyak orang bilang presentasi harus dibuka dengan lelucon supaya suasana cair. Tapi Winston justru tidak setuju.

Menurutnya, di awal presentasi orang masih menyesuaikan diri dengan suara, cara bicara, dan gaya kita. Jadi lelucon sering tidak berhasil.

Sebagai gantinya, buka presentasi dengan menjelaskan: “Setelah presentasi ini selesai, kalian akan memahami hal yang sebelumnya belum kalian tahu.” Tujuannya supaya audiens merasa presentasi kita penting untuk didengarkan.

Winston juga menjelaskan bahwa saat presentasi, pasti ada sebagian orang yang kehilangan fokus atau melamun.
Itu normal. Karena itu, poin penting jangan hanya dijelaskan sekali.

Ulangi beberapa kali dengan cara berbeda:

  • gunakan contoh berbeda,
  • sudut pandang berbeda,
  • atau ilustrasi berbeda.

Dengan begitu, lebih banyak orang bisa memahami inti pembicaraan kita. Beliau juga mengajarkan konsep yang disebut “build a fence.” Artinya, saat menjelaskan ide, kita perlu menjelaskan juga: “Ide ini berbeda dari yang lain karena apa?” Kalau tidak dijelaskan, audiens bisa bingung dan menganggap ide kita sama dengan hal lain yang mirip.
Contohnya: “Metode ini mirip dengan metode sebelumnya, tetapi bedanya ada pada proses dan hasil akhirnya.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa membantu orang lebih paham.

Yang membuat Winston berbeda dari banyak motivator public speaking adalah cara mengajarnya sangat praktis.
Beliau membahas hal-hal kecil yang ternyata penting, seperti: memberi jeda beberapa detik setelah bertanya,
menggunakan papan tulis karena lebih mudah diikuti otak, menjaga ruangan tetap terang supaya audiens tidak mengantuk, dan datang lebih awal sebelum presentasi dimulai agar lebih siap.

Semua berdasarkan pengalaman puluhan tahun mengajar. Winston punya rumus agar ide kita mudah diingat.
Beliau menyebutnya “5 S”:

  1. Symbol → simbol atau gambar yang mewakili ide
  2. Slogan → kalimat singkat yang mudah diingat
  3. Surprise → sesuatu yang mengejutkan atau tidak terduga
  4. Salient Idea → satu inti gagasan yang paling menonjol
  5. Story → cerita di balik ide tersebut

Kalau presentasi punya unsur-unsur ini, orang akan lebih mudah mengingatnya. Terakhir, Winston menyarankan agar presentasi tidak ditutup hanya dengan: “Terima kasih.”

Menurut beliau, penutup terbaik adalah mengulang kembali inti kontribusi atau pesan utama kita. Karena biasanya, hal terakhir yang kita ucapkan adalah yang paling diingat audiens. Di akhir kuliahnya, Patrick Winston mengatakan: “Ide-ide kalian itu seperti anak kalian sendiri. Jangan biarkan mereka pergi ke dunia dalam keadaan tidak siap.”

Beberapa bulan setelah rekaman kuliah itu dibuat, Patrick Winston meninggal dunia. Kuliah ini menjadi salah satu warisan terbaiknya di dunia pendidikan. Kalau kamu sering presentasi di kelas, pelajaran dari beliau sangat layak dipelajari.