AdriBlog – Namanya mungkin belum banyak dikenal publik luas. Tapi di kalangan pertanian, nama Dr. Ali Zum Mashar perlahan mulai disebut-sebut bukan karena ia seorang pejabat atau pengusaha besar, melainkan karena ia berhasil menemukan sesuatu yang dulu dianggap tidak masuk akal: sekumpulan mikroba yang mampu menghidupkan tanah mati.
Pria asal Demak, Jawa Tengah, alumni S1 Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini menyimpan perjalanan panjang yang jarang diketahui orang.
Proposal yang Ditolak
Sekitar akhir dekade 1990-an, Ali muda berdiri di depan ruangan dengan beberapa lembar hasil uji tanah di tangannya. Ia memperkenalkan gagasan yang terdengar mustahil saat itu: mikroba yang bisa menyuburkan berbagai jenis tanah rusak — gambut beracun, tanah bekas tambang, bahkan lahan berpasir.
Proposalnya ditolak. Dianggap tidak masuk akal secara ilmiah.
Setelah itu, ia pulang dengan map yang sama. Naik kendaraan umum. Menyimpan hasil penelitiannya di rumah sendiri, tanpa laboratorium besar, tanpa dana negara. Yang ada hanya botol-botol kultur kecil, catatan penuh angka, dan tekad yang tidak juga padam.
Uang habis lebih cepat dari hasil penelitian. Satu per satu barang dijual. Orang-orang mulai berbisik — ia terlalu jauh mengejar sesuatu yang tidak akan berhasil.
Penemuan di Lahan Gambut Kalimantan
Penemuan mikroba “Google” ini terjadi pada tahun 2000, di lahan gambut di Kalimantan, di mana Ali sendiri pernah bertransmigrasi.
Di sanalah ia menyaksikan dan membuktikan sendiri kemampuan formula mikrobanya. Tanah gambut yang keras dan asam mulai berubah. Jagung tumbuh. Kedelai tumbuh. Panen naik berkali-kali lipat.
Formula mikroba yang kemudian diberi nama BIOP 2000Z ini bekerja dengan prinsip yang unik ia dapat mencari dan menemukan potensi tersembunyi yang ada di dalam tanah, seperti cara kerja mesin pencari Google di internet. Dari situlah nama “Mikroba Google” berasal.
Segala jenis tanah diklaim dapat disuburkan kembali: tanah bekas tambang, tanah berpasir, maupun tanah gambut. Yang lebih mengejutkan adalah kecepatannya. Jika metode konvensional membutuhkan tidak kurang dari 30 tahun untuk memulihkan tanah bekas tambang, dengan BIOP 2000Z prosesnya hanya butuh sekitar 3 tahun.
Uji coba di Kerengpangi, Kalimantan Tengah sebuah kawasan bekas penambangan emas membuktikan hal itu. Cukup dengan 3 liter mikroba per hektar, lahan bekas tambang tersebut berhasil dipulihkan kesuburannya. Untuk tanah berpasir, hanya dibutuhkan 3 hingga 4 bulan dengan dosis 8 liter per hektar.
Dari Doktor IPB hingga Penghargaan Internasional
Ali tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan studi hingga jenjang S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil program studi Ekonomi Sumber Daya Lingkungan.
Berkat penemuannya, ia memperoleh penghargaan Hak Kekayaan Intelektual Luar Biasa pada tahun 2009.
Patennya pun tidak main-main. Mikroba Google telah mendapatkan empat lisensi paten dari WIPO lembaga paten internasional yang berkedudukan di Swiss.
Pasar Dalam Negeri, Hingga Mancanegara
Saat ini, BIOP 2000Z telah merambah pasar dalam negeri maupun luar negeri. Petani di Jawa Timur dan Jawa Tengah telah banyak yang menggunakannya. Malaysia dan Australia pun turut mengimpor mikroba ini. Produk ini dipasarkan oleh PT Alam Lestari sebagai fabrikator induk.
Ketertarikan dari dunia internasional tidak berhenti di situ. Negara-negara Timur Tengah termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang tengah berjuang membangun ketahanan pangan di tengah bentangan gurun pasir, melihat potensi besar teknologi ini untuk diterapkan pada lahan-lahan kering mereka.
Inovasi yang Lahir dari Keteguhan
Kisah Dr. Ali Zum Mashar bukan sekadar kisah sukses seorang ilmuwan. Ini adalah cermin bagi sistem riset kita.
Berapa banyak inovasi serupa yang sudah tenggelam karena tidak punya akses ke institusi yang tepat? Berapa banyak peneliti yang menyerah di tengah jalan karena tidak ada yang mau mendengarkan?
Yang membedakan Ali adalah keteguhannya untuk terus berjalan, bahkan ketika harus menjual barang-barang miliknya demi sebuah botol kultur dan catatan formula yang belum tentu diterima. kini, tanahnya – tanah yang dulu dianggap mati – tumbuh. (Adri/red).
