Premanisme gaya baru

Preman, itulah sebutan untuk orang-orang yang selalu di identikkan dengan sampah masyarakat, tukang onar, politikus illegal, dan berbagai sebutan buruk yang dilekatkan pada orang-orang ini. Premanisme juga merupakan signatum dari kemolorotan moral sosial yang ada di negara-negara berkembang. Kata “preman” yang diadopsi dari kata (freeman)yang bisa diinterpretasikan sebagai pria yang bebas dari aturan-aturan dengan orientasi individualistik atau kelompok. Di negara kita, preman bukan lagi sesuatu yang harus diperdebatkan keberadaannya. Mereka bukan lagi menyandang gelar manusia-manusia bebas seperti ideologi premanisme yang kita tahu, bahkan mereka telah menjadi aset investasi untuk kepentingan-kepentingan politik di negara kita ini, dan yang tak kalah ironisnya adalah preman kadang menjadi dambaan bagi orang-orang yang frustasi akan realita kehidupan.<preman ooh preman>

Bertato dan menggunakan aksesoris serba nyentrik. Mungkin itulah gambaran sebagian masyarakat Indonesia tentang preman, tapi bukan itu persepsi yang ingin saya sampaikan tentang wacana preman ini. Bagi saya pribadi, preman merupakan simbol kesewenang-wenangan diluar arena kekuasaan politis. Preman yang bisa berkuasa walaupun bukan penguasa, preman yang menjadi aparat walaupun bukan aparatur negara, preman yang bisa mengeksekusi walaupun bukan eksekutor yang sah, preman yang bisa mempengaruhi mindset sosial dengan sedikit doktrin, namun efektif. Dan inilah saya sebut dengan premanisme gaya baru.

Dengan kostum putih yang dimaknai dengan kesucian, memakai sorban bergaya Timur Tengah, dan berpenampilan dingin bak ahli surga. Inilah dia preman-preman gaya baru yang terorganisir dengan sebutan FRONT PEMBUAT INTIMIDASI (FPI). Organisasi ini hadir sebagai perwakilan Tuhan untuk menghancurkan kesesatan yang ada di negara kita ini. Mereka juga seolah-olah hidup untuk sebuah misi keagamaan dan mengkambing hitamkan Tuhan untuk melegitimasi perilaku anarkis terhadap orang-orang yang mencoreng agama mereka dengan tinta ketidaksepahaman. Tragedi Cikeusik baru-baru ini telah melahirkan horror baru terhadap fondasi toleransi yang telah dibangun lebih dari setengah abad oleh bapak-bapak pendiri bangsa ini.

Saya punya sebuah analogy tentang kasus ini, dan analogy ini pernah saya sampaikan kepada pemilik blog adryan.web.id, analogynya adalah apabila seorang buta warna mengatakan warna merah itu adalah hitam, apakah berhak bagi kita yang tidak buta warna untuk memaksakan warna hitam yang dilihat orang tersebut sebagai merah? Inilah yang disebut dengan keyakinan. Dimana keyakinan tidak bisa dilihat dari kacamata orang lain dan dikenal dengan nama perspektif individu. Agama yang seharusnya menjadi embrio kemanusiaan justru telah menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Lalu dengan alasan penistaan Agama, Agama yang diakui ternistai bisa menjadi basis kebijakan terhadap pembunuhan umat lain. Bukankah ini hal yang  sangat lucu? Agama yang katanya memiliki pesona damai dan berilmu pengetahuan bisa berubah menjadi Agama keras yang bar-bar.

Penistaan Agama  sangat dilarang keras, anehnya penistaan terhadap sesama manusia bisa menjadi anjuran. Dimana letak kemanusiaannya mereka yang mengaku umat paling manusiawi? Hahaha kalian sebenarnya sama sekali tidak berTuhan, karena Tuhan yang kalian sembah berada dibalik kebencian.

Tulisan ini bukanlah pembelaan terhadap sebuah aliran, karena dalam posisi ini kemanusiaan lebih penting daripada sebuah ajaran. Ajaran Agama bisa berkembang karena manusia menginginkan kemanusiaan, dan kemanusiaanlah yang memberi ruang untuk ajaran Agama agar tetap exist sampai sekarang. Kebenaran agama hanya absolute untuk umat yang meyakininya saja dan untuk menciptakan universalisme KeTuhanan kita butuh kemanusiaan. Jadi jelas mengapa dalam posisi ini orang yang paling benar dalam menyikapi kasus ini adalah aktivis HAM (Hak Asasi Manusia)

Original : dewa pagaruyung