Apa Tuhan itu penting?

PERANGSekitar seminggu yang lalu sahabat saya Anton Hilman menulis di blognya : http://www.hilman.web.id/posting/blog/1174/kobow-si-penganut-agnostic-dari-kampungku


Beliau menulis tentang Agnostikisme dan tulisan itu to the point merujuk saya sebagai penganut paham tersebut. Disertai dengan deskripsi melalui blog picture, Anton Hilman yang notabene adalah penganut Islam Kaffah < katanya > melukiskan bahwa Agnostikisme justu terbalik dari teks blog yang ditulisnya. Dalam blog picture itu Agnostikisme malah dikaitkan dengan keTuhanan dalam akal manusia, sedangkan Agama justru sebaliknya, bukankah ini sebuah fallacy. Seperti dalam tulisan Anton Hilman yang mengatakan : “Agnostikisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas”.


Dari tulisan dan deskripsinya di blog tersebut secara implisit menjelaskan bahwa Anton Hilman itu sendirilah yang Agnostik. hehe
Berarti Anton Hilman yang selalu mendo’akan saya untuk segera mendapat hidayah, ternyata beliau telah mendapat hidayah duluan..heeee


Pemaknaan terhadap kata “Tuhan” yang sebenarnya hanyalah sebuah (signans) yang membuat manusia harus melahirkanproblema baru yang berakibat lahirnya kebenaran subjektif. Tuhan yang Esa, Tunggal, Satu merupakan simbol pembahasa’an atas kedai’fan manusia. Jika Tuhan Esa, Tunggal, dan Satu kita gembar-gemborkan sebagai basis ketauhidan, berarti kita telah menghakimi nomenklatur Tuhan yang sebenarnya melampui esensi, interpretasi, dan eksistensi. Monotheisme adalah produk baru dari keyakinan yang masih memberhalakan kemampuan pikir yang masih terbatas, ini adalah penghinaan terhadap Si Maha Agung itu sendiri, karena manusia telah bisa menghitungnya dengan SATU. Apalagi dengan adanya kanonisasi manusia yang di anggap suci dan terpilih oleh Tuhan, bukankah ini peremehan terhadap Tuhan yang sebenarnya tidak bisa diukur oleh apapun.
Theisme (Agama) semuanya berangkat dari asumsi terhadap pemaknaan bahasa bahwa Tuhan itu hadir dan terjangkau, oleh sebab itu orang-orang agamisakan menyulapdogma menjadi fakta demi memperkuat ukuran Tuhan itu dengan potensi akalnya. Kenapa ada kekacauan antar umat beragama? Karena setiap KeTuhanan berada dalam potensi akal manusia yang sesungguhnya labil. “Menghakimi” adalah salah satu power agama untuk melanggengkan keberadaannya melalui kanonisasi manusia-manusia pintar sebagai leader dan motor penggerak waham-waham (asumsi) yang sebenarnya sifatnya sangat sekuler individualis.
Jika saya mengatakan Tuhan itu tidak penting dan tidak ada, itu hanyalah masalah bahasa yang tidak terunkapkan akan kepentingan dan keberadaan Tuhan yang sesungguhnya tidak terjangkau oleh apapun. Orang-orang yang mengatakan Tuhan itu penting dan Tuhan itu ada otomatis telah mendefenisikan Tuhan itu adalah bagian kepentingan dan keberadaan manusia itu sendiri, nah ini membuktikan bahwa Tuhan dalam versi Agama telah berusaha untuk diciptakan oleh manusia agar terlihat seperti Pencipta. Sebuah konstruksi pikiran yang LUAR BIASA.


Namun bagaimanapun pendapat saya juga adalah bagian dari waham (asumsi) atas keda’ifan manusia. Oleh karena itu saya juga tidak berhak untuk mengklaim ketidakbenaran suatu Agama, jika agama itu masih berangkat dari nilai-nilai keAliman (edukasi) bukan KEZALIMAN.


Sedikit mengutip dari buku The God Delucion karya Richard Dawkins yang mengatakan bahwaBila seseorang menderita waham, maka gejala itu disebut kegilaan, tapi apabila waham itu diderita oleh banyak orang, gejala ini akan dipanggil Agama.


Depabina