AdriBlog – Beliau adalah pimpinan saya di tempat saya bekerja saat ini Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA). Nama lengkap beliau adalah Dr. Ns. Hj. Rifa Yanti, S.Kep., M.Biomed., yang saat ini sedang berjuang meraih jabatan akademik tertinggi sebagai profesor.
Selama mengenal beliau, ada satu hal yang selalu saya ingat, yaitu penghargaan yang sangat besar terhadap pengabdian dan inisiatif. Beliau tidak hanya menilai seseorang dari apa yang diperintahkan untuk dikerjakan, tetapi juga menghargai setiap kontribusi yang dilakukan dengan tulus, bahkan ketika hal tersebut tidak pernah beliau minta secara langsung. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana apresiasi tersebut diberikan, dan pengalaman itu menjadi salah satu alasan mengapa saya menaruh rasa hormat yang tinggi kepada beliau.
Melalui tulisan sederhana ini, saya mencoba merangkum perjalanan, dedikasi, dan kiprah beliau di dunia pendidikan, kesehatan, serta pengabdian kepada masyarakat. Menurut saya, beliau adalah sosok yang layak mendapatkan apresiasi, salah satunya melalui tulisan ini.
Tulisan ini tentu masih jauh dari sempurna. Jika terdapat kekeliruan data, kekurangan informasi, ataupun kesalahan penulisan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Semoga tulisan ini dapat menjadi bentuk penghargaan kecil atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam memajukan pendidikan tinggi kesehatan, khususnya di Provinsi Riau. Maaf, Bu Rektor, apabila masih terdapat kesalahan dalam penulisan ini.
Tidak semua perjalanan menuju kursi rektor dimulai dari ruang rapat yang megah atau lingkungan akademik yang serba lengkap. Ada yang berawal dari tekad sederhana untuk mengabdi kepada masyarakat melalui dunia kesehatan.
Begitulah kisah Assoc. Prof. Dr. Ns. Hj. Rifa Yanti, S.Kep., M.Biomed., perempuan kelahiran Dumai, 15 Oktober 1975, yang kini memimpin Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) sebagai Rektor periode 2025–2029.
Perjalanan hidupnya adalah cerita tentang konsistensi, pendidikan, pengabdian, dan keberanian menerima amanah yang semakin besar dari waktu ke waktu.
Ketika Dunia Keperawatan Menjadi Pilihan Hidup
Ketertarikan Rifa Yanti terhadap dunia kesehatan membawanya menempuh pendidikan di Universitas Andalas, Padang. Di kampus inilah ia memulai perjalanan akademiknya melalui Program Studi Keperawatan.
Sebagai mahasiswa keperawatan, ia tidak hanya belajar tentang ilmu kesehatan, tetapi juga memahami bahwa setiap tindakan medis memiliki sisi kemanusiaan yang sangat kuat.
Penelitian sarjananya membahas kecemasan pasien sebelum menjalani operasi. Sebuah topik yang menunjukkan kepeduliannya terhadap aspek psikologis pasien, bukan hanya kondisi fisik semata.
Setelah meraih gelar Sarjana Keperawatan, ia melanjutkan pendidikan Profesi Ners. Namun langkahnya tidak berhenti di sana.
Rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat mendorongnya melanjutkan studi Magister Biomedik dengan konsentrasi Kesehatan Ibu dan Anak.
Pada jenjang ini, ia meneliti manfaat ikan gabus terhadap peningkatan berat badan balita yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Penelitian tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap isu gizi yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Semangatnya untuk terus belajar akhirnya mengantarkannya ke jenjang doktoral pada bidang Public Health atau Kesehatan Masyarakat.
Dalam disertasinya, ia mengangkat tema pemberdayaan keluarga dan peran tokoh masyarakat dalam memperbaiki status gizi balita di Kota Pekanbaru. Sebuah penelitian yang menegaskan keyakinannya bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dibangun hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Meniti Karier dari Dosen hingga Pimpinan Perguruan Tinggi
Setelah menyelesaikan pendidikan, Rifa Yanti memulai kiprahnya sebagai dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI).
Kemampuan manajerial dan kepemimpinannya mulai terlihat ketika ia dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis. Mulai dari Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, Ketua Management Representative ISO, hingga akhirnya menjadi Wakil Rektor II yang membidangi urusan umum, keuangan, dan kepegawaian.
Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk kemampuan kepemimpinannya.
Namun perjalanan kariernya kemudian menemukan babak baru ketika bergabung dengan STIKes Al Insyirah Pekanbaru.
Di kampus yang saat itu masih berstatus sekolah tinggi kesehatan tersebut, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.
Peran itu dijalaninya selama lima tahun.
Tidak lama kemudian, kepercayaan yang lebih besar datang.
Pada tahun 2017, ia resmi menjabat sebagai Ketua STIKes Al Insyirah Pekanbaru. Jabatan tersebut kembali dipercayakan kepadanya pada periode berikutnya hingga tahun 2025.
Mengawal Transformasi STIKes Menjadi Institut
Salah satu fase paling penting dalam perjalanan kepemimpinannya adalah ketika STIKes Al Insyirah bertransformasi menjadi Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah.
Perubahan bentuk perguruan tinggi bukanlah pekerjaan sederhana.
Dibutuhkan penguatan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan mutu akademik, hingga pemenuhan berbagai persyaratan kelembagaan yang ketat.
Dalam proses tersebut, Rifa Yanti menjadi salah satu figur sentral yang mengawal transformasi kampus.
Ketika perubahan status institusi akhirnya terwujud, ia dipercaya menjadi Rektor pertama IKTA.
Kepercayaan itu kembali diberikan untuk periode 2025–2029.
Di bawah kepemimpinannya, IKTA tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan, tetapi juga mulai mengembangkan integrasi teknologi sebagai bagian dari arah masa depan pendidikan tinggi.
Aktif Mengabdi di Organisasi Profesi
Bagi Rifa Yanti, mengajar dan memimpin kampus bukan satu-satunya bentuk pengabdian.
Ia juga aktif di berbagai organisasi profesi dan organisasi pendidikan tinggi.
Di lingkungan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), ia pernah menjadi Ketua PPNI Komisariat STIKes Al Insyirah, Wakil Ketua DPW PPNI Provinsi Riau, hingga Ketua Pusat Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan PPNI Provinsi Riau.
Di dunia pendidikan tinggi, kiprahnya juga cukup luas.
Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua APTISI Wilayah X-B Bidang Kajian dan Permasalahan Kependidikan Kesehatan, anggota bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi ABPTKes Indonesia, hingga akhirnya menjabat Ketua Umum Aliansi Perguruan Tinggi Kesehatan Indonesia (APTKes) Wilayah Riau periode 2024–2029.
Keaktifannya dalam berbagai organisasi tersebut membuat jejaring dan pengaruhnya tidak hanya terasa di tingkat kampus, tetapi juga pada tingkat regional dan nasional.
Peneliti yang Tak Pernah Berhenti Belajar
Selain sebagai pemimpin institusi, Rifa Yanti juga merupakan peneliti yang produktif.
Berbagai penelitian dan publikasinya membahas isu-isu penting seperti gizi balita, stunting, diabetes mellitus, kesehatan lansia, kesehatan ibu dan anak, hingga mutu pelayanan kesehatan.
Kepeduliannya terhadap persoalan stunting bahkan terlihat berulang kali dalam berbagai penelitian, seminar internasional, maupun kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukannya.
Bagi dirinya, penelitian bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik.
Penelitian adalah jalan untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Menulis untuk Berbagi Ilmu
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan pimpinan perguruan tinggi, Rifa Yanti tetap meluangkan waktu untuk menulis buku.
Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain Buku Saku Bidan: 100 Bidan Bersyair dan Berpantun, Keperawatan Anak, Hakikat Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia, Analisis Kesehatan Lingkungan, Biomedik Dasar, hingga Keperawatan Dasar dan Keselamatan Pasien.
Melalui buku-buku tersebut, ia berusaha membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas.
Penghargaan yang Datang dari Dedikasi
Berbagai amanah dan pencapaian yang diraih tidak datang secara instan.
Semuanya merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dijalani dengan konsisten.
Pada tahun 2024, Majalah IKTA memberikan penghargaan “Sosok Visioner” kepada dirinya sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan kepemimpinannya dalam mengembangkan institusi.
Namun bagi seorang pendidik, penghargaan terbesar mungkin bukanlah plakat atau sertifikat.
Melainkan ketika melihat mahasiswa berhasil, dosen berkembang, dan institusi yang dipimpinnya terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melanjutkan Misi Membangun Generasi Masa Depan
Hari ini, sebagai Rektor IKTA, Dr. Rifa Yanti terus membawa visi besar untuk menjadikan kampus sebagai pusat pendidikan kesehatan dan teknologi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing.
Perjalanan yang dimulai dari seorang mahasiswa keperawatan di Padang kini telah mengantarkannya menjadi salah satu tokoh pendidikan kesehatan yang berpengaruh di Provinsi Riau.
Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang jabatan yang tinggi, melainkan tentang kemampuan menjaga komitmen untuk terus belajar, melayani, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Dan dari Dumai hingga Pekanbaru, dari ruang kuliah hingga kursi rektor, perjalanan itu masih terus berlanjut. (Adri)