Saya baru saja dapat message dari teman Komunitas FLP di Facebook,
Semoga Allah selalu melindungi kita…Site Facebook Israel ada disini
http://www.facebook.com/pages/Israel/108099562543414?v=stream&ref=ts…nah dan dari pengamatan saya, semua teman yang pernah membuat status Dengan Kata ISrael atau membuat Tulisan di Catatan Facebook akan terecord (Terekam) Otomatis di FB israel tersebut, Tapi setelah saya telusuri di FB tersebut Nama saya terecord juga disitu.
Jadi Bagi rekan-rekan yang pernah membuat tulisan di FB tentang israel, berhati-hatilah karena bisa kemungkinan mereka sedang Membuat List TO (Target Operation), Dan Kemungkinan anda yang cerdas menulis atau Bisa memprovokasi dunia Internasional Bisa jadi TO…Nya…Hati-hati saja, tapi saya menyarankan agar Menulis Status di Wall atau Menulis Catatan di Facebook Cukup pakai Gabungan Angka dan Huruf, Contoh “Fuck 15rael” atau dengan kata2 lainnya.
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH). AllahuAkbar…:D
Berikut Screen Shot Teman-teman yang akan jadi TO yahudi….Wkwkwkwkw….Bisa jadi Perang JIHAD Ko Mah, Nan Parah Bana RIDO Tawakal BOMB ISRAEL=”Samo APo K dibom DO???” dan Teman dari Internasional “Video Fuck Of Goverment Israel”, Atau Save Gambar dengan cara Klik Kanan-Save as…:D




wah saya baru sebentar ini membuat nama itu, untuk pertama kali pula,,,,,,jd TO g yah???hehehheh
Hahahahah…Kalau Gitu Langsung Jihad aja…:D
Mungkin iman memang sesuatu yang absurd untuk dipetakan. Perjalanan
keimanan bukanlah perjalanan yang linier, ia begitu fluktuatif.
Kadang-kadang menurun seperti palung yang dalam, kadang-kadang melesat
seperti sebuah lompatan kuantum. Hari ini bisa jadi kau membenci
sesuatu, tetapi mungkin lain di hari yang lain.
Hinaan terhadap Nabi Muhammad kembali muncul. Seseorang boleh jadi
sangat membenci Muhammad Rasulullah, seperti yang kita lihat belakangan
di halaman-halaman web, tentang komik-komik yang menggambarkan Muhammad
sebagai seorang amoral yang berusaha bersembunyi di balik firman Tuhan.
Tetapi, kebencian bukanlah akhir dari segalanya, seseorang yang belum
kita kenal itu bisa jadi hanya belum tahu apa-apa tentang Muhammad,
lalu kebencian mengusai hatinya.
Kebencian bukanlah akhir dari segalanya, setidaknya itulah yang saya
yakini ketika mengingat kembali kisah Umar Bin Khattab atau Saint Paul
dari Tarsus. Keduanya adalah contoh yang sempurna untuk menunjukkan
bahwa kebencian hanyalah bagian dari absurditas iman yang kadang-kadang
justru mengantarkan seseorang pada iman yang paling tinggi.
Umar bin Khattab semula adalah penentang Islam dan pembenci Muhammad
yang paling keras. Bahkan ia berusaha membunuh Muhammad dan
menghalang-halangi setiap orang yang menambatkan imannya pada keponakan
Abu Thalib itu. Tetapi iman memang absurd, justru ketika ia mengenal
Muhammad dari dekat, ia mengalami lompatan iman (leap of faith,
meminjam istilah Kierkegaard) yang luar biasa. Pada gilirannya, dialah
pembela Islam dan pelindung Muhammad yang paling keras. Umar Sang
Pemberani, Singa Padang Pasir, begitulah Muhammad Rasulullah
menjulukinya untuk keberanian dan pengorbanannya membela Islam dan
melindungi Sang Rasul dari segala marabahaya.
Contoh lain juga mengabarkan hal serupa. Saul dari Tarsus, Silisia,
seorang keturunan Yahudi pembenci Yesus dan penentang ajaran Kristiani.
Pada gilirannya ia menjadi seorang apostle, seorang saint, yang sangat
berpengaruh dalam sejarah persebaran iman Kristiani dan pembela Yesus
nomor satu. Lalu ia dikenal kemudian sebagai Saint Paul atau Paulus.
Dalam kasus ini, lompatan iman kembali terjadi dengan absurditas yang
sulit dimengerti.
Untuk menyebut nama lain, kita mengenal Mariam Jamila, Dr. Jenkins,
dan lainnya yang mengalami hal serupa. Bahwa kebencian bukanlah akhir
dari segalanya, kebencian mungkin hanyalah bentuk dari ketidaktahuan,
atau ketidakingintahuan.
Lagi-lagi, penghinaan terhadap Muhammad Rasulullah muncul. Di tengah
hiruk-pikuk orang-orang yang berteriak geram, saya hanya diam, sambil
membayangkan Rasulullah yang agung itu sedang bertanya sendu: benarkan
kalian mencintaiku? Ketika sampai pada pertanyaan itu, saya menimbang:
haruskan saya marah dan turun ke jalan, membakar ban dan melempari apa
saja—menuduh siapa saja? Ataukah saya harus memberitahu mereka,
mengabarkan sosok Muhammad, yang di mata Goethe, adalah cahaya di atas
cahaya. “Seorang manusia yang kompleks dan penuh kasih,” kata Karen
Armstrong.
Bila Muhammad masih di sekitar kita, melihat penghinaan itu, ia
mungkin akan mengatakan hal yang sama seperti saat ia dilempari batu
dan dihinakan orang-orang di Thaif, dan Jibril yang sedih melihat itu
menawarkan sesuatu pada Sang Nabi, “bila Kau mau, Kekasih Allah, aku
bisa membalikkan bumi dan menimpakan gunung kepada mereka.” Lalu
Muhammad menjawab, “Tidak! Sesungguhnya mereka hanya belum tahu.”
Mereka hanya belum tahu, maka kebencian merambati hatinya dan
meledakkan komik-komik itu di mana-mana. Andai saja mereka tahu, batin
saya berbisik.
Maka, saya memutuskan untuk tidak meledakkan kemarahan di
jalan-jalan, yang saya ingin lakukan hanyalah satu: saya ingin
mengabarkan tentang siapa Muhammad Rasulullah pada sebanyak mungkin
orang, pada siapa saja. Sebab, kejadian ini seperti menyentakkan
kesadaran saya, seperti Rasulullah yang bertanya sendu: benarkah kalian
mencintaiku?
No Religion is an Island. Tak ada agama yang menjadi pulau bagi
dirinya sendiri, kata Abraham Heschel, seorang Rabi Yahudi. Mustahil
bila agama-agama di dunia ini mengisolasi diri dari yang lain dalam
menghadapi masalah-masalah kemanusiaan. Selama ini cara beragama kita
seperti saling mengasingkan bahkan penuh persaingan. Kita masih
terjebak pada logika kami dan mereka, aku dan kamu, seraya
menjerembabkan mereka ke dalam penghinaan. Padahal sebuah agama tidak
bisa hanya menjadi pulau yang bersendiri, tak bisa hanya mengandalkan
kami, sebab mereka bisa jadi merupakan orang-orang yang menyempurnakan
iman kita.
Jadi, lihatlah sisi lainnya. Mungkin komik-komik itu justru
mengingatkan kita, benarkah kita sudah cukup mencintai Muhammad
Rasulullah? Juga bisa jadi, komik-komik itulah yang menyadarkan kita
bahwa selama ini betapa abai kita pada sosok Muhammad. Saatnya
menyebarkan cinta, itulah yang akan dikatakan Jalaluddin Rumi bila
mengetahui semua ini. Bila mereka begitu rajin menghina dan
mengolok-olok Muhammad Rasulullah, seberapa rajinkah kita memuji dan
mengagungkannya?
Iman adalah sesuatu yang absurd dan tak bisa disimpulkan begitu
saja. Bila kita mengabarkan cinta pada semua manusia, bila kita
mengabarkan keagungan Muhammad pada semua manusia, orang-orang yang
selama ini membencinya bisa jadi akan berbalik memendam cinta yang
paling dalam. Bisa jadi, seperti Saul pada Yesus. Seperti Umar pada
Muhammad SAW.
“Qum, qum ya habibi kam tanam; An-naumu ‘alal ‘asyiq haram. Bangun,
bangunlah kekasihku, berapa lama engkau tidur, tidur diharamkan untuk
para pencinta!” Kata Aflaki dalam Manaqib al-‘Arifin.
aha… jgn2 FB dibuat untuk tujuan bantu 15r43l neh… untung status ku kemaren doa untuk negara itu… supaya mereka segera memeluk Islam… dakwahlah kira2… he..he…he… Allah Maha Besar….
Biarin aja lah jadi TO, Pedulia apa aq…..
i5r4el memang tak jauh berbeda dngan binatang buas kelaparan di tengah hutan………
allahuakbar…………
israel sih gak masalah. … saya lebih benci dengan SBY , Front pembela Islam. orang israel itu jenius2 gak sperti SBY yg lebay
dan tak pernah meratiin rakyatnya